Waspada PMK Masih Mengintai, Puskeswan Semanu–Rongkop Imbau Peternak Tingkatkan Kewaspadaan
SIDA Today 14 Januari 2026 14:30:11 WIB
Waspada PMK Masih Mengintai, Puskeswan Semanu–Rongkop Imbau Peternak Tingkatkan Kewaspadaan
Botodayaan (SID) – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak masih menjadi ancaman serius yang perlu diwaspadai bersama. Hal tersebut disampaikan dalam sosialisasi kewaspadaan PMK melalui media informasi yang dipasang di sejumlah titik layanan peternakan. PMK merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Aphthovirus dan menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi.
Petugas Puskeswan Semanu–Rongkop, Eko Mujiyanto, menjelaskan bahwa penularan PMK dapat terjadi dengan sangat cepat, baik melalui kontak langsung antarhewan, perantara benda (fomites) seperti peralatan, pakaian, kendaraan, hingga melalui udara dalam kondisi tertentu.
“PMK ini penularannya sangat cepat. Kontak langsung antar ternak, peralatan kandang, bahkan sepatu dan pakaian manusia bisa menjadi media penyebaran virus. Karena itu peternak harus benar-benar waspada,” ujar Eko Mujiyanto.
Ia menambahkan, tanda-tanda klinis PMK yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi, air liur berlebihan, lepuh atau luka pada mulut, gusi, lidah, serta kuku. Hewan yang terinfeksi juga tampak pincang, lemas, dan mengalami penurunan nafsu makan yang berdampak langsung pada produktivitas ternak.
“Jika ditemukan gejala seperti lepuh di mulut atau kuku, ternak sebaiknya segera dipisahkan dan dilaporkan ke petugas. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah penyebaran yang lebih luas,” lanjutnya.
Selain menimbulkan kerugian ekonomi akibat turunnya produksi susu dan bobot ternak, PMK juga berisiko menyebabkan kematian pada ternak muda. Oleh karena itu, Puskeswan Semanu–Rongkop mengimbau peternak untuk rutin menjaga kebersihan kandang, melakukan desinfeksi peralatan, membatasi lalu lintas hewan, serta segera melapor apabila menemukan gejala PMK.
“Kerja sama peternak dan petugas sangat menentukan. Dengan disiplin biosekuriti dan pelaporan cepat, kita bisa menekan penyebaran PMK di wilayah Rongkop dan sekitarnya,” pungkas Eko Mujiyanto.
Pemerintah terus mengingatkan bahwa kewaspadaan dan kepedulian bersama menjadi kunci utama dalam melindungi ternak dan menjaga keberlangsungan usaha peternakan masyarakat.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- RAKOR SENINAN 06 April 2026
- APEL RUTIN SENIN PAGI 06 April 2026
- Curah Hujan Masih Tinggi, Petani Botodayaan Mulai Panen Kacang Tanah
- Pelayanan Kalurahan Botodayaan Libur Sementara, Buka Kembali 6 April 2026
- Karang Taruna Condong Gelar Mancing Bareng di Telaga Ngampel Botodayaan
- Mangayubagya 80 tahun yuswa Dalem Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan HB X
- Inspektorat Lakukan Pemeriksaan Lapangan Bantuan Benih Padi di Padukuhan Bototlogo
INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT
CHANNEL BOTODAYAAN
LURAH BOTODAYAAN
















